Dunia esports Asia Tenggara diguncang oleh kabar penangkapan mantan atlet nasional Thailand, Naphat “Tokyogurl” Warasin, bersama pemain semi-profesional Cheerio, oleh Divisi Pemberantasan Kejahatan (CSD) Thailand.
Skandal ini berawal dari babak final kategori wanita cabang Arena of Valor (AoV) di SEA Games ke-33 yang berlangsung di Bangkok pada 16 Desember 2025. Kronologi kejadian bermula ketika petugas pertandingan mencurigai pola permainan yang tidak wajar serta koordinasi yang mendadak runtuh saat tim Thailand berhadapan dengan Vietnam.
Kecurigaan tersebut memicu investigasi internal mendalam yang akhirnya mengungkap adanya skema remote play, di mana Tokyogurl diduga sengaja membagikan kredensial akun login miliknya kepada Cheerio tepat sebelum pertandingan dimulai agar Cheerio dapat mengakses akun tersebut dari jarak jauh.

Investigasi lebih lanjut menemukan adanya deteksi upaya login dari perangkat lain sesaat sebelum kompetisi dimulai, serta catatan percakapan di antara keduanya yang menunjukkan komunikasi aktif selama gameplay berlangsung, sebuah pelanggaran berat terhadap regulasi turnamen.
Akibat temuan tersebut, Tokyogurl langsung dikeluarkan dari arena di tengah turnamen yang sedang berjalan, dan seluruh tim wanita Thailand didiskualifikasi dari ajang SEA Games. Cheerio sendiri akhirnya mengakui keterlibatannya dan menyampaikan permohonan maaf secara terbuka melalui media sosial, namun kerusakan terhadap integritas kompetisi sudah tidak terhindarkan.
Santi Lohtong, selaku Presiden Federasi Esports Thailand, menegaskan bahwa tindakan ini telah mencoreng reputasi nasional, sehingga pihak federasi menjatuhkan sanksi larangan bertanding seumur hidup kepada kedua pemain tersebut.
Kini, kasus tersebut telah berkembang dari sekadar pelanggaran aturan turnamen menjadi ranah pidana. Pada 6 Februari 2026, jaksa resmi melimpahkan berkas perkara ke Pengadilan Pathumwan Kwaeng dengan tuduhan kolusi untuk mengakses data komputer yang dilindungi secara ilegal.

Saat ini, kepolisian Thailand masih terus melakukan penyelidikan lebih lanjut untuk memastikan tidak ada pihak lain yang terlibat, sementara pengadilan dijadwalkan akan membacakan putusan akhir pada 17 Maret 2026.
Skandal ini menjadi peringatan keras bagi seluruh ekosistem esports, bahwa kecurangan di level profesional memiliki konsekuensi hukum yang sangat nyata dan dapat menghancurkan karier secara permanen.