Industri esports Indonesia pernah mencatatkan sejarah yang akan terus dibicarakan dalam tahun-tahun mendatang. Perpindahan Schevenko David Tendean, yang lebih akrab disapa Skylar, dari RRQ Hoshi ke ONIC Esports pada pertengahan 2025 lalu bukan sekadar bursa transfer biasa. Ia adalah anomali—sebuah peristiwa megah yang melibatkan angka fantastis dan harapan setinggi langit, namun berakhir dengan tanda tanya besar.

Bukan rahasia lagi bahwa angka di balik layar transfer ini disebut-sebut mencapai Rp3 miliar. Untuk ukuran mobile esports di tanah air, angka ini adalah rekor absolut, melampaui nilai transfer bintang-bintang sebelumnya. Spekulasi keterlibatan sponsor besar, yakni platform dompet digital DANA, sebagai motor penggerak finansial semakin mempertegas bahwa ini adalah kesepakatan tingkat tinggi yang melibatkan lebih dari sekadar urusan teknis permainan.
Keputusan ONIC untuk menebus Skylar dengan harga setinggi itu sebenarnya sangat masuk akal secara strategis. Mereka tidak hanya membeli seorang Gold Laner dengan mekanik luar biasa, tetapi juga membeli “ikon” dan jaminan performa konsisten yang telah teruji selama lima tahun di bawah tekanan besar sang Raja dari segala Raja.
Namun, yang menjadi ironi sekaligus titik yang patut disayangkan adalah durasi pengabdiannya. Setelah investasi yang begitu besar dan gegap gempita pengumuman yang menggetarkan komunitas, Skylar justru dikabarkan hanya aktif bermain selama satu musim kompetisi saja.

Bagi sebuah organisasi yang mengeluarkan dana miliaran rupiah, satu musim tentu bukan waktu yang ideal untuk mencapai return on investment (ROI), baik secara prestasi gelar juara maupun dari sisi branding jangka panjang. Skylar datang dengan ekspektasi menjadi kepingan terakhir dream team untuk menguasai M7, namun perjalanannya berakhir jauh lebih cepat dari yang dibayangkan banyak orang.
Menganalisa fenomena ini, kita harus melihatnya dengan cara yang elegan. Di satu sisi, transfer ini adalah bukti bahwa industri esports Indonesia telah mencapai level profesionalisme finansial yang sangat dewasa. Namun di sisi lain, perpindahan ini menjadi pengingat bahwa dalam dunia kompetitif, kecocokan visi dan stamina mental terkadang lebih menentukan daripada sekadar nilai kontrak di atas kertas.

Sangat disayangkan melihat talenta sehebat Skylar, dengan dukungan finansial semegah itu, tidak memiliki waktu lebih lama untuk benar-benar melebur dalam filosofi permainan “Landak Kuning”. Apakah ini karena perbedaan gaya main, tekanan ekspektasi, atau sekadar keinginan sang pemain untuk beristirahat? Hingga kini, jawaban pastinya masih tersimpan rapat di ruang manajemen.
Transfer Skylar ke ONIC akan selalu dikenang sebagai “Transfer 3 Miliar”—sebuah monumen ambisi besar di MPL Indonesia. Namun, ia juga akan dikenang sebagai pengingat pahit bahwa kemegahan angka tidak selalu berbanding lurus dengan panjangnya masa bakti. Sebagai penikmat, kita hanya bisa menghargai keberanian kedua tim dalam mengeksekusi kesepakatan bersejarah ini, sembari menyayangkan bahwa kolaborasi emas ini harus usai sebelum benar-benar mencapai puncaknya.
Antara Harga dan Durasi, Menyayangkan Singkatnya Jejak Skylar di Sang Raja Langit