Trending News

Blog Post

Hanwha Life Esports Isinya Super Team, Tapi Kok Masih Gagal di LCK Cup 2026?
Esports, Featured, League of Legends

Hanwha Life Esports Isinya Super Team, Tapi Kok Masih Gagal di LCK Cup 2026? 

Gugurnya Hanwha Life Esports dari LCK Cup 2026 menjadi anomali besar yang membuktikan bahwa deretan nama bintang tidak menjamin kemenangan instan di Summoner’s Rift. Proyek bertabur bintang ini justru terjebak dalam krisis identitas yang akut; mereka seolah memiliki semua komponen mesin mewah pada sosok Zeus, Kanavi, dan Gumayusi, namun gagal merakitnya menjadi satu kesatuan yang solid.

Masalah utama terletak pada pembagian sumber daya yang tumpang tindih, di mana ketiga carry utama ini tampak berebut atensi tanpa ada satu pun pemain yang bersedia menjadi pelayan bagi kemenangan tim.

Kondisi ini sangat kontras dengan era saat Peanut masih memimpin lini tengah hutan HLE; Peanut dikenal sebagai perekat yang mampu menyeimbangkan ego pemain bintang melalui kontrol makro dan shotcalling yang tenang, peran yang tampaknya gagal diisi oleh Kanavi yang memiliki gaya main agresif namun cenderung individualis dan haus sumber daya.

Ketidakmampuan HLE beradaptasi dengan format Fearless Draft juga menjadi lubang menganga yang berhasil dieksploitasi dengan cerdas oleh Gen.G dan Nongshim RedForce. Tanpa kepemimpinan stabil yang dulu ditawarkan Peanut atau dukungan dinamis seperti Keria di tim sebelumnya, duet Zeus dan Gumayusi kehilangan arah dalam situasi tertekan.

Di HLE, mereka dipaksa bermain dalam tempo kaku karena shotcalling Delight dan gaya main Zeka belum mampu menciptakan sinergi global yang harmonis. Kegagalan mencapai target waktu 34 menit saat melawan Gen.G adalah bukti nyata betapa rapuhnya mentalitas mereka; mereka bermain melawan jam, bukan melawan lawan, yang berujung pada pengambilan keputusan makro yang sangat elementer.

Ke depannya, ada beberapa poin krusial yang harus segera dibenahi oleh manajemen dan tim kepelatihan HLE agar tidak menjadi bulan-bulanan di musim reguler. Pertama, mereka harus menetapkan hierarki ekonomi yang jelas; tidak mungkin memberikan porsi gold yang sama besar kepada Zeus, Zeka, dan Gumayusi secara bersamaan tanpa mengorbankan visi peta dan kendali objektif.

Salah satu dari mereka harus belajar bermain dengan gaya low resource demi kepentingan tim. Kedua, HLE membutuhkan jenderal lapangan yang mampu mengambil keputusan dingin di saat genting. Jika Kanavi tetap pada gaya bermain carry, maka beban shotcalling harus dialihkan sepenuhnya kepada Delight dengan otoritas penuh, agar tidak terjadi tumpang tindih instruksi yang membingungkan anggota tim lainnya.

Selain itu, perluasan champion pool untuk menghadapi format Fearless Draft menjadi harga mati. HLE terlihat terlalu bergantung pada power pick konvensional dan gagap saat lawan melakukan ban yang menargetkan fleksibilitas mereka. Terakhir, aspek mental dan chemistry di luar permainan harus diperkuat. Kegagalan ini menunjukkan bahwa mekanik setinggi langit sekalipun akan hancur jika tidak didasari oleh kepercayaan antar pemain.

Jika manajemen tidak segera menemukan cara untuk meredam ego dan menciptakan sinergi seperti yang dilakukan Peanut di masa lalu, maka puncak gunung LCK akan tetap menjadi fatamorgana bagi sang Monster Gumayusi dan kawan-kawan.

Related posts

Leave a Reply

Required fields are marked *