Pertanyaan mengenai mengapa Chovy, yang secara mekanik sering dianggap sebagai pemain terbaik di dunia, tetap kesulitan melampaui Faker di panggung terbesar adalah salah satu debat paling menarik di komunitas League of Legends.
Meskipun secara statistik domestik (LCK) Chovy sempat mendominasi Faker selama beberapa tahun terakhir, ada alasan fundamental mengapa ia sering kali “terbentur” saat menghadapi sang legenda di turnamen internasional seperti Worlds. Berikut adalah artikel opini mengenai fenomena tersebut.

Dalam dunia League of Legends, ada dua jenis kehebatan. Ada kehebatan yang diukur lewat Creep Score (CS), mekanik mikro yang sempurna, dan dominasi di fase laning. Itulah Chovy. Namun, ada juga kehebatan yang diukur lewat aura, ketenangan di bawah tekanan ekstrem, dan kemampuan untuk melakukan langkah krusial saat semua orang ragu. Itulah Faker.
Meskipun Chovy berkali-kali membuktikan bahwa dia adalah “monster” di LCK, saat panggung berubah menjadi panggung dunia (Worlds), Faker tetap menjadi tembok yang tak tergoyahkan. Mengapa hal ini terjadi?
Chovy adalah penganut paham efisiensi yang ekstrem. Ia dikenal dengan kemampuannya mendapatkan 10 CS per menit dalam kondisi apa pun. Namun, kritik terbesar bagi Chovy adalah kecenderungannya untuk terlalu fokus pada pertumbuhan pribadinya (farming) hingga terkadang kehilangan momen untuk memberikan dampak besar di map.
Sebaliknya, Faker tidak keberatan tertinggal 20 CS jika itu berarti ia bisa melakukan roaming ke bot lane atau melakukan engage yang memenangkan teamfight. Di turnamen besar, satu momen krusial seringkali lebih berharga daripada keunggulan 1.000 emas dari hasil farming.

Ada alasan mengapa Faker disebut sebagai GOAT (Greatest of All Time). Faker memiliki kemampuan unik untuk menaikkan level permainannya justru saat tekanan berada di titik tertinggi. Sebaliknya, Chovy sering kali terlihat bermain “terlalu aman” atau bahkan melakukan kesalahan yang tidak biasa (choking) saat berada di babak eliminasi Worlds.
- Faker: Bermain untuk menang (sering kali mengambil risiko besar).
- Chovy: Bermain untuk tidak kalah (cenderung pasif saat tertekan).
Faker bukan sekadar Midlaner; dia adalah konduktor bagi T1. Kemampuannya dalam shot-calling dan mengarahkan rekan setimnya di tengah kekacauan adalah sesuatu yang belum bisa disamai oleh Chovy. Chovy mungkin menang dalam duel 1vs1 di lane, tetapi Faker menang dalam permainan catur secara keseluruhan.
Secara head-to-head di LCK, Chovy sebenarnya memiliki catatan yang sangat baik melawan Faker dalam beberapa musim terakhir. Namun, sejarah mencatat bahwa T1 dan Faker memiliki “DNA Worlds”. Ketika Chovy berhadapan dengan Faker di semifinal atau final turnamen internasional, ada beban sejarah yang berat di pundaknya, sementara bagi Faker, itu hanyalah “hari Minggu biasa di kantor”.
Chovy tidak bisa mengalahkan Faker bukan karena ia kurang jago secara mekanik—ia mungkin Midlaner paling berbakat secara teknis yang pernah ada. Namun, untuk mengalahkan Faker di panggung dunia, dibutuhkan lebih dari sekadar mekanik; dibutuhkan keberanian untuk melepaskan kesempurnaan statistik demi satu momen kemenangan yang berisiko.
Hingga Chovy bisa melepaskan diri dari obsesinya terhadap efisiensi dan mulai bermain dengan insting “pembunuh” seperti Faker di turnamen besar, sang Unkillable Demon King akan tetap menjadi penguasa takhta.