Wacana mengenai penerapan Coach Comms, atau izin bagi pelatih untuk berkomunikasi langsung dengan pemain selama pertandingan berjalan, kini menjadi perdebatan hangat yang membelah opini di panggung pro League of Legends.
Dari sisi positif, kehadiran pelatih di dalam saluran suara dianggap mampu meningkatkan kualitas makro dan eksekusi strategi secara keseluruhan.
Dengan pelatih yang bertindak sebagai “mata ketiga”, kesalahan-kesalahan mendasar akibat tekanan mental atau hilangnya fokus pada objektif dapat diminimalisir, sehingga pertandingan yang tersaji menjadi lebih taktis, rapi, dan memiliki standar kompetitif yang jauh lebih tinggi.

Namun, di sisi lain, kebijakan ini memicu kekhawatiran besar akan hilangnya insting murni dan kemandirian para pemain di lapangan. Banyak pihak berpendapat bahwa daya tarik utama esports terletak pada kemampuan pemain dalam mengambil keputusan krusial dalam hitungan milidetik di bawah tekanan luar biasa.
Jika instruksi terus mengalir dari pelatih, peran In-Game Leader (IGL) dikhawatirkan akan memudar dan pemain berisiko menjadi sekadar “bidak” yang digerakkan dari belakang layar.
Pada akhirnya, tantangan bagi Riot Games adalah mencari titik tengah agar teknologi komunikasi ini bisa memperkaya strategi tanpa harus mematikan kreativitas dan sisi kemanusiaan yang selama ini menjadi nyawa dari setiap kemenangan dramatis di Summoner’s Rift.