Trending News

Blog Post

Climbing Ranked di League of Legends, Sesulit Apa?
League of Legends

Climbing Ranked di League of Legends, Sesulit Apa? 

Bagi sebagian orang, climbing ranked di League of Legends adalah hobi. Namun bagi mereka yang sudah terjebak di dalamnya selama bertahun-tahun, ini lebih menyerupai eksperimen psikologis tentang ketahanan mental manusia. League of Legends bukan sekadar game MOBA; ini adalah ekosistem yang dirancang untuk menguji batas kesabaran, ego, dan kemampuan adaptasi kamu di bawah tekanan ekstrem.

Mengapa mencapai rank impian terasa begitu mustahil? Berikut adalah analisis HASAGI mengenai faktor-faktor yang membuat pendakian di Summoner’s Rift jauh lebih sulit daripada yang terlihat di permukaan.

1. Efek Domino Kesalahan Tunggal

Tidak seperti olahraga tradisional di mana satu kesalahan kecil biasanya hanya berujung pada hilangnya poin, dalam League of Legends, kesalahan adalah investasi bagi musuh. Mekanisme snowballing memastikan bahwa jika kamu mati satu kali di lane, lawan kamu tidak hanya mendapatkan emas, tetapi juga keunggulan level, kontrol wilayah, dan momentum.

Satu keputusan buruk dari satu pemain di menit ke-20 dapat membatalkan semua kerja keras empat pemain lainnya selama 19 menit sebelumnya. Dalam sistem ini, kamu tidak hanya bermain melawan musuh, tetapi juga melawan risiko “keteledoran kolektif” yang bisa terjadi kapan saja.

2. Variabel “Human Error” dan Manajemen Ego

Secara statistik, kamu adalah satu-satunya variabel yang bisa kamu kontrol. Namun, kamu ditempatkan dalam tim berisi empat orang asing dengan isi kepala, suasana hati, dan ego yang berbeda.

  • The Main Character Syndrome: Banyak pemain merasa mereka harus menjadi bintang utama. Saat mereka tertinggal, mereka cenderung menyerah daripada membiarkan rekan setim yang lain membawa beban kemenangan (getting carried).
  • Mentalitas “FF15”: Rapuhnya mentalitas komunitas membuat banyak pertandingan berakhir secara psikologis bahkan sebelum menara pertama hancur. Mengelola emosi rekan setim seringkali lebih melelahkan daripada melakukan outplay mekanik terhadap lawan.

3. Algoritma Matchmaking dan Paradox MMR

Sistem Matchmaking Rating (MMR) adalah pedang bermata dua. Riot Games merancang sistem ini untuk memastikan kamu berada di tingkat kemenangan sekitar 50%. Saat kamu mulai menang beruntun (win streak), sistem sering kali akan menguji kamu dengan memberikan lawan yang lebih tangguh atau rekan setim yang sedang dalam tren kalah (loss streak).

Ini menciptakan perasaan bahwa semakin kamu jago, semakin berat beban yang harus kamu pikul. Climbing bukan lagi soal menjadi “lebih baik dari lawan”, tetapi seberapa mampu kamu mengimbangi disparitas skill yang diciptakan oleh algoritma di dalam tim kamu sendiri.

4. Metagame yang Terus Bergeser

League of Legends adalah entitas yang hidup. Patch setiap dua minggu sekali bisa mengubah juara yang tadinya “Dewa” menjadi sampah dalam semalam. Pemain yang ingin climbing tidak bisa hanya jago mekanik; mereka harus menjadi sarjana data yang terus memantau tren, build item terbaru, dan perubahan map. Jika kamu tidak beradaptasi dengan meta, kamu akan tergilas oleh mereka yang hanya sekadar mengikuti instruksi statistik di internet.

5. Investasi Waktu yang Tidak Proporsional

Satu pertandingan League of Legends rata-rata memakan waktu 25–40 menit. Jika kamu menang dan mendapatkan +20 LP, lalu kalah di gim berikutnya dan kehilangan -19 LP, kamu baru saja membuang lebih dari satu jam hidup kamu untuk progres yang hampir nol. Efisiensi climbing di League of Legends menuntut volume pertandingan yang masif, yang secara perlahan mengikis fokus dan ketajaman reaksi seorang pemain akibat kelelahan (burnout).


Climbing di League of Legends pada akhirnya bukan hanya soal siapa yang paling jago melakukan Flash-Ulti. Ini adalah perang atrisi—siapa yang paling bisa menjaga kewarasannya di tengah kekacauan.

Kesulitannya bersifat multidimensi: kamu butuh mekanik mikro yang tajam, pemahaman makro yang luas, dan kecerdasan emosional setingkat diplomat untuk menyatukan lima orang asing demi satu tujuan. Jika kamu berhasil naik rank, itu bukan karena kamu beruntung, tapi karena kamu berhasil menaklukkan salah satu sistem kompetitif paling kejam yang pernah diciptakan manusia.

Related posts

Leave a Reply

Required fields are marked *