Trending News

Blog Post

Wild Rift di Indonesia: Ketika “Kualitas” Saja Tak Cukup Meruntuhkan Takhta Sang Raja
Community, Wild Rift

Wild Rift di Indonesia: Ketika “Kualitas” Saja Tak Cukup Meruntuhkan Takhta Sang Raja 

Sejak pertama kali diumumkan pada tahun 2019, League of Legends: Wild Rift diprediksi akan menjadi “kiamat” bagi dominasi Mobile Legends: Bang Bang (MLBB) di Indonesia. Dengan nama besar Riot Games, grafis yang jauh lebih memukau, dan mekanisme permainan yang lebih dalam, Wild Rift seharusnya menang di atas kertas.

Namun, memasuki tahun 2026, realitanya justru berbanding terbalik. Di warung kopi hingga turnamen tingkat daerah, MLBB masih menjadi “bahasa nasional” gamer seluler Indonesia, sementara Wild Rift seolah menjadi komunitas eksklusif yang sunyi.

Mengapa game dengan kualitas produksi setinggi ini justru sulit “bernafas” di pasar sebesar Indonesia?

Masalah utama Wild Rift bukan pada permainannya yang buruk, melainkan pada kompleksitasnya. Penikmat game di Indonesia cenderung menyukai gaya permainan yang cepat, simpel, dan bisa dinikmati di sela-sela kesibukan. Wild Rift, dengan sistem last hit yang ketat, keharusan kembali ke markas (recall) untuk membeli item, dan empat skill aktif, menciptakan tembok penghalang bagi pemain kasual.

Di saat MLBB menawarkan kepuasan instan dalam 10-15 menit, Wild Rift menuntut fokus penuh selama 20 menit atau lebih. Bagi mayoritas pasar kita yang didominasi oleh pemain yang “ingin cepat menang”, kompleksitas ini bukan dianggap tantangan, melainkan beban.

Selain gameplay, kita juga tidak bisa mengabaikan aspek perangkat. Meskipun teknologi ponsel terus berkembang, inklusivitas MLBB yang bisa berjalan lancar di ponsel spesifikasi rendah, biasa disebut hp kentang, tetap menjadi keunggulan mutlak.

Wild Rift adalah game yang berat. Grafisnya yang indah menuntut performa tinggi yang tidak dimiliki oleh semua kalangan di Indonesia. Hal ini secara otomatis memangkas jutaan calon pemain potensial dari kelas ekonomi menengah ke bawah.

Bicara tentang ekosistem esports, Riot Games dikenal sangat hati-hati (baca: lambat) dalam membangun ekosistem esports lokal. Di saat Moonton sudah membangun liga profesional (MPL) yang mengakar hingga ke komunitas akar rumput selama bertahun-tahun, Wild Rift sempat kehilangan momentum emasnya.

Keputusan Riot untuk menarik dukungan esports resmi di luar wilayah Asia tertentu beberapa waktu lalu juga mengirimkan sinyal negatif bagi organisasi esports besar di Indonesia. Tanpa kompetisi yang berkelanjutan, gairah pemain untuk mengejar karier profesional pun meredup.

Gamer Indonesia sudah terlanjur menginvestasikan terlalu banyak—baik uang untuk skin maupun waktu untuk mencapai peringkat tinggi—di game sebelah. Fenomena Sunk Cost Fallacy membuat banyak orang enggan pindah ke game baru karena merasa “sayang” dengan apa yang sudah mereka capai. Wild Rift datang saat pasar sudah jenuh dan dominasi sudah terkunci rapat.

Lalu ada pertanyaan, apakah Wild Rift game yang gagal? Tentu tidak.

Secara global dan teknis, ini adalah salah satu MOBA seluler terbaik yang pernah dibuat. Namun di Indonesia, Wild Rift adalah contoh nyata bahwa dalam industri game, kualitas teknis tidak selalu berbanding lurus dengan popularitas.

Wild Rift mungkin akan tetap hidup sebagai game “niche” untuk mereka yang mencari tantangan lebih, namun untuk menggeser status “game rakyat” dari MLBB? Sepertinya itu adalah misi yang hampir mustahil. Wild Rift bukan kekurangan pemain, ia hanya kekurangan cara untuk relevan dengan cara bermain orang Indonesia yang unik.

Related posts

Leave a Reply

Required fields are marked *