Trending News

Blog Post

Usia 30 Tahun di Esports, Waktunya Pensiun atau Baru Mulai?
Esports

Usia 30 Tahun di Esports, Waktunya Pensiun atau Baru Mulai? 

Dalam industri esports konvensional, ada sebuah mitos tua yang menyebutkan bahwa karier seorang pro player akan habis begitu mereka menginjak usia 25 tahun. Penurunan refleks, waktu reaksi yang melambat sekian milidetik, hingga kejenuhan mental sering kali dijadikan alasan mengapa para pemain muda berumur belasan tahun lebih diminati.

Namun, benarkah ada “tanggal kedaluwarsa” yang pasti untuk karier seorang atlet esports? Pertanyaan ini kembali menyeruak ke permukaan dan memicu diskusi hangat di kalangan komunitas global seiring dengan bertambahnya usia para veteran yang justru menolak untuk tunduk pada mitos tersebut.

Sorotan utama tentu saja tertuju pada sang GOAT League of Legends, Lee “Faker” Sang-hyeok, yang baru saja merayakan ulang tahunnya yang ke-30 pada bulan Mei ini. Menariknya, alih-alih menunjukkan tanda-tanda ingin gantung keyboard, Faker justru telah memperpanjang kontraknya bersama T1 hingga tahun 2029 mendatang. Keputusan ini mengamankan setidaknya tiga tahun lagi karier profesionalnya di level tertinggi kompetisi LCK.

Apakah dia akan benar-benar pensiun setelah kontraknya habis? Jawabannya bisa ya, bisa juga tidak. Mengingat dedikasinya yang tanpa batas, tidak ada yang bisa menjamin Faker tidak akan menambah durasi bermainnya jika fisiknya masih mampu bersaing.

Satu hal yang membuat banyak orang tercengang adalah bagaimana performa Faker tetap berada di level kosmis meskipun sudah memasuki kepala tiga. Di saat pemain seusianya sudah lama pensiun, ia justru tetap tampil stabil, menjadi motor serangan T1, bahkan sukses mengoleksi gelar juara Worlds hingga 6 kali. Fenomena ini membuktikan bahwa faktor penurunan refleks akibat usia sering kali terlalu dilebih-lebihkan.

Dengan pola latihan yang tepat, menjaga kesehatan mental, serta menjaga postur tubuh dari cedera seperti carpal tunnel, seorang pemain veteran ternyata masih bisa mengompensasi sedikit penurunan refleks mereka dengan pengalaman makro dan pengambilan keputusan yang jauh lebih matang daripada pemain muda.

Sebaliknya, jika kita melihat mayoritas pro player lain, keputusan untuk pensiun biasanya jarang disebabkan murni karena faktor usia biologi. Banyak dari mereka yang terpaksa menyudahi karier karena penurunan performa yang drastis akibat hilangnya motivasi, kejenuhan (burnout) karena jadwal latihan yang brutal, cedera fisik yang tidak ditangani dengan baik, hingga tersandung kasus indisipliner atau skandal yang merusak reputasi mereka.

Di beberapa negara seperti Korea Selatan, kewajiban mengikuti wajib militer juga sering kali menjadi tembok besar yang memaksa para pemain di usia pertengahan 20-an untuk hiatus atau bahkan menyudahi karier mereka lebih cepat. Contoh kasus di sini adalah mantan pemain Hanwha Life Esports, Peanut, yang baru saja pensiun gak lama ini untuk wajib militer.

Lantas, ke mana para pemain ini pergi setelah memutuskan untuk pensiun? Untungnya, ekosistem esports saat ini sudah jauh lebih matang dan menawarkan banyak jalur karier pasca-pensiun yang sangat menjanjikan. Bagi mereka yang masih memiliki pemahaman taktis yang mendalam, beralih fungsi menjadi staf pelatih adalah langkah yang paling umum, seperti yang dilakukan oleh Lee “Easyhoon” Ji-hoon yang sukses bertransformasi menjadi pelatih (coach) andal.

Pilihan lainnya adalah menjadi analis pertandingan, atau memanfaatkan basis penggemar yang sudah dibangun selama bertahun-tahun untuk menjadi pembuat konten (content creator) dan streamer sukses, seperti yang dilakukan oleh mantan top laner legendaris T1, Jang “MaRin” Gyeong-hwan.

Bagi mereka yang memiliki jiwa kepemimpinan dan insting bisnis yang kuat, pensiun dari kursi pemain justru menjadi awal dari pembangunan kerajaan bisnis baru di industri ini. Salah satu contoh paling ikonik adalah Andy “Reginald” Dinh, mantan pemain profesional yang kemudian mendirikan dan mengelola salah satu organisasi esports terbesar di dunia, Team SoloMid.

Selain itu, pensiunan pemain kini juga banyak yang direkrut oleh developer game sebagai penasihat desain gameplay (QA tester/game designer) karena pengetahuan mendalam mereka tentang mekanik game. Pada akhirnya, usia pensiun di esports bukanlah angka mati di kalender, melainkan batasan mental dan fisik yang kini standarnya terus digeser lebih jauh oleh para legenda yang menolak untuk menyerah.

Esports

Usia 30 Tahun di Esports, Waktunya Pensiun atau Baru Mulai?

Related posts

Leave a Reply

Required fields are marked *