Alfi “Khezcute” Nelphyana datang ke RRQ Hoshi dengan reputasi mentereng sebagai pelatih juara. Namun, status legenda Dota 2 dan tangan dinginnya di tim sebelumnya seolah tak berbekas. Alih-alih membawa kebangkitan, Sang Raja justru terjebak dalam periode terburuk sepanjang sejarah keikutsertaan mereka di MPL ID.
Pekan ketujuh menjadi titik nadir bagi RRQ Hoshi. Kekalahan telak 0-2 di Derby Classic melawan EVOS, disusul hasil memilukan dari Geek Fam, resmi menutup pintu playoff. Untuk kedua kalinya secara beruntun, RRQ dipastikan absen dari babak penentuan juara dan harus puas tertahan di dasar klasemen.
Kekecewaan fans RRQ meledak secara masif di media sosial. Sesaat setelah dipastikan gugur, akun Instagram Coach Khezcute langsung dibanjiri desakan untuk mundur. Kata “Out” memenuhi setiap kolom komentar, mencerminkan hilangnya kesabaran para fans yang lelah melihat tim kesayangan mereka terus terpuruk.

Serangan netizen tak lagi hanya soal taktik, tapi sudah merambah ke ranah personal. Tak sedikit komentar yang melontarkan hinaan fisik hingga cacian kasar kepada Khezcute. Kritik tajam atas kemampuannya meramu strategi berubah menjadi gelombang perundungan siber yang melampaui batas profesionalisme.
Menjadi pelatih tim sebesar RRQ memang memiliki risiko tinggi, namun tekanan yang diterima Khezcute musim ini berada di level yang berbeda. Dipertanyakan kredibilitasnya sekaligus diserang secara pribadi menciptakan beban mental luar biasa bagi sang pelatih di tengah kegagalan tim yang ia asuh.
Kini manajemen RRQ berada di persimpangan jalan. Mempertahankan Khezcute berarti bertaruh pada proses di tengah penolakan masif fans, sementara melepasnya berarti memulai kembali segalanya dari nol. Apakah perombakan total akan kembali menjadi solusi, ataukah ada masalah internal yang lebih dalam?

Musim ke-17 menjadi sejarah kelam yang tak ingin diingat oleh RRQ Hoshi. Kegagalan ini menjadi pengingat keras bahwa nama besar saja tidak cukup untuk menang. Dibutuhkan evaluasi total, bukan sekadar mengganti wajah di kursi pelatih, agar Sang Raja bisa kembali menemukan takhtanya yang hilang.
Sekarang fokus beralih ke persiapan musim depan. Kingdom menanti langkah nyata dari manajemen untuk membenahi keretakan yang ada. Apakah Sang Raja mampu bangkit dari keterpurukan ini, ataukah dominasi RRQ Hoshi di skena kompetitif MLBB Indonesia memang sudah mulai pudar?