Perpindahan Kim “Canna” Chang-dong dari LCK ke LEC membuka tabir menarik mengenai perbedaan mencolok dalam budaya fandom di dunia esports. Dalam wawancara terbarunya bersama Inven Korea, mantan pemain T1 dan Dplus KIA ini mengungkapkan bahwa di Korea Selatan, pro player tidak lagi dianggap sekadar atlet, melainkan sudah diperlakukan layaknya Idol K-Pop.
Menurut Canna, di Korea, ada batasan yang sangat jelas dan formal antara penggemar dan pemain yaitu interaksi sering kali terjadi dalam suasana yang sangat teratur, penuh rasa hormat yang mendalam, bahkan cenderung mengagungkan sang pemain sebagai sosok bintang besar yang sulit dijangkau secara personal.

Budaya “Idol” ini terlihat dari bagaimana fans di Korea memberikan dukungan yang sangat masif namun terstruktur, seperti mengirimkan truk dukungan, hadiah mewah, hingga menjaga privasi pemain dengan sangat ketat. Intinya, para pro player di sini benar-benar diperlukan bak artis papan atas yang muncul di serial drama ataupun musik populer.
Sebaliknya, Canna merasa atmosfer di Eropa jauh lebih santai dan membumi. Di sana, para pemain diperlakukan layaknya “teman” atau tetangga sendiri. Penggemar di Eropa tidak ragu untuk berinteraksi dengan gaya yang lebih akrab, santai, dan tanpa sekat formalitas yang kaku. Menurutnya, hal ini menjadi perbedaan yang sangat kontras antar dua region.

Canna juga mengatakan perbedaan ini memberikan pengalaman unik bagi dirinya; di satu sisi ia merasakan kemegahan status bintang di Korea, namun di sisi lain ia menikmati kehangatan dan kedekatan personal yang ditawarkan oleh komunitas di Eropa. Meskipun berbeda, keduanya sama-sama memberikan kesan yang sangat positif.
Fenomena ini membuktikan bahwa di Korea, esports telah menjadi bagian integral dari budaya pop yang setara dengan industri hiburan arus utama. Pro player bukan lagi sekadar orang yang jago bermain game, tapi merupakan ikon gaya hidup yang memiliki basis penggemar fanatik dengan protokol interaksi yang mirip dengan industri musik Seoul.

Pergeseran status ini tentu menunjukkan betapa dewasanya industri esports di Korea, meskipun bagi beberapa pemain, keakraban ala komunitas Eropa memberikan napas segar yang lebih manusiawi dalam karier kompetitif mereka yang penuh tekanan. Bagaimana dengan Indonesia sendiri? Apakah fans esports di sini juga memperlakukan idola mereka seperti idol?
Pro Player League of Legends di Korea Selatan Diperlukan Bak Idol K-Pop